Lumut “Bryophyta”



Pengertian

Tumbuhan lumut dalam bahasa ilmiah disebut “bryophyta” merupakan tumbuhan peralihan antara talofita (belum dapat dibedakan antara batang, daun, dan akarnya) dengan kormofita (sudah dapat dibedakan antara akar, batang, dan daunnya).

Istilah “bryophyta” berasal dari bahasa Yunani, bryon berarti lumut dan phyton berarti tumbuhan. Istilah ini juga pertama kali diperkenalkan oleh Braun (1864), tetapi pada saat itu yang tergolong pada istilah tersebut selain tumbuhan lumut, juga terdapat golongan thallophyta dan pteridophyta [1].Tumbuhan lumut atau Bryophyta tergolong sebagai tumbuhan berspora. Tumbuhan berspora yaitu tumbuhan yang melakukan perkembangbiakan dengan cara spora. Tumbuhan-tumbuhan diantaranya tergolong sebagai tumbuhan spora, misalnya tumbuhan lumut (Bryophyta), lumut kerak (Lichenes), dan tumbuhan paku (Pteridophyta) [2]. Persebaran tumbuhan lumut di dunia diperkirakan mencapai 23.000-25.000 spesies [1,3].


Karakteristik

Lumut merupakan kolonisasi kedua, yang agak kurang berhasil, di daratan oleh nenek moyang akuatik atau merupakan keturunan tumbuhan darat yang telah kehilangan banyak di antara penyesuaian moyangnya [3]. Karakteristik dari tumbuhan lumut antara lain [4]–[6]:

  1. Tumbuhan lumut tergolong sebagai tumbuhan tingkat rendah atau disebut Cryptogamae
  2. Tumbuhan peralihan antara tumbuhan bertalus (thallophyta) dengan tumbuhan berkosmus (cormophyta)
  3. Tumbuhan tidak berpembuluh atau non vaskuler (atracheophyta)
  4. Melakukan fotosintesis karena tersusun atas sel-sel dengan plastida yang mengandung klorofil a dan b
  5. Umumnya hidup di daratan dengan dinding selnya tersusun atas selulosa
  6. Tidak ditemukan jaringan pengangkut xylem maupun floem, jika ditemukan dalam bentuk yang sangat sederhana.

Struktur

Bryophyta memiliki ukuran tubuh yang kecil, tetapi tersusun atas struktur-struktur yang disebut sebagai struktur gametofit dan struktur sporofit. Stuktur gametofit merupakan bagian dari tumbuhan lumut yang berperan dalam menghasilkan sel gamet jantan maupun betina. Struktur gametofit jika diamati berupa kumpulan tumbuhan lumut hijau berlembar-lembar tampak seperti tumbuhan kecil dan akan membentuk alat kelamin jantan (anteridium) dan alat kelamin betina (arkegonium), sedangkan struktur sporofit berupa tangkai dengan variasi beberapa warna seperti cokelat-kekuningan, atau merah-keunguan. Beberapa struktur gametofit dan sporofit pada tumbuhan lumut antara lain:

  • Anteridium atau mikrogametangium adalah alat kelamin jantan pada tumbuhan lumut penghasil spermatozoid;
  • Arkegonium atau makrogametangium adalah alat kelamin betina pada tumbuhan lumut penghasil ovum;
  • Sporogonium adalah embrio yang tumbuh menjadi suatu badan kecil yang akan menghasilkan spora, serta bukan sebuah struktur yang terpisah dari tumbuhan lumut [4];
  • Protonema adalah hasil kecambah dari spora kecil bersifat haploid (n) [4];
  • Seta adalah tangkai yang tumbuh memanjang menopang;


Sporangium adalah kotak spora yang memiliki bentuk seperti kapsul. Kapsul tersebut dilindungi oleh kaliptra. Sporangium sendiri tersusun atas apofisis, teka dan operkulum.

Rizoid adalah organ kadang-kadang berbentuk benang-benang yang memiliki peranan seperti akar untuk memperoleh air yang diserap secara imbibisi serta berperan sebagai perekat tempat yang menjadi habitatnya.  

Habitat Tumbuhan Lumut

Tumbuhan pada divisi bryophyta atau briofita ini hidup di tempat yang basah, seperti tanah lembap, rawa, dan arus air. Tumbuhan tersebut juga mengalami pergiliran. lumut juga dikenal sebagai tumbuhan pelopor, yakni tumbuhan yang mampu hidup di suatu tempat sebelum tumbuhan lain dapat tumbuh. hal ini disebabkan lumut tumbuh dengan membentuk suatu koloni sehingga mampu menjangkau wilayah yang luas, walaupun memiliki ukuran yang kecil. Jaringan-jaringan yang mati pada lumut nantinya akan menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut atau bahkan tumbuhan sekitarnya.

Sejatinya, habitat tumbuhan lumut adalah daratan. Namun, lumut juga menyukai tempat yang lembap dan basah, seperti pada tembok, batu, dan kulit pohon. Mengapa? Karena lumut membutuhkan air agar dapat bereproduksi. Namun sangat jarang lumut ditemukan di perairan, kecuali lumut gambut atau Sphagnum sp. Lumut yang hidup di air dapat tumbuh meluas menutupi permukaan, dasar atau dinding perairan.


Ciri-Ciri Tumbuhan Lumut

  • Termasuk tumbuhan epifit dan tumbuhan peralihan antara talus dan kormus.
  • Lumut dapat menghasilkan spora sehingga disebut dengan sporofit.
  • Lumut dapat menghasilkan gamet disebut dengan gametofit.
  • Bereproduksi secara vegetatif dan generatif. Reproduksi vegetatif dengan menghasilkan kuncup eram, umbi, tunas, dan bagian tubuh yang dipotong. Sedangkan reproduksi generatif dengan menghasilkan anteridium dan arkegonium.


Jadi :

=> Akar=> Akar pada lumut berbentuk rhizoid dan dapat dibedakan untuk lumut daun sedangkan lumut lainnya tidak dapat dibedakan. Rhizoid ini bercabang-cabang dan memiliki banyak sel. Berfungsi sebagai penyerapan.

=> Batang=> Batang pada lumut belum bisa dibedakan dengan daunnya karena lumut memiliki batang yang menyerupai daun. Batang ini tidak memiliki pembuluh sehingga pengangkutannya menggunakan difusi antarsel. Batangnya ini bercabang dan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya daun dan sebagai pengokoh lumut

=> Daun=> Daun pada lumut belum sejati yang memiliki bagian tertentu. Daun ini berbentuk kecil dan mengandung klorofil sehingga dapat terjadi proses fotosintesis. Daun memiliki bagian-bagian yaitu :

  • Operkulum = Sebagai penutup sporangium.
  • Sporangium = Sebagai tempat berkumpulnya spora.
  • Apofisis = Membatasi sporangium dan menjadi tembok pembatas sporangium.
  • Kaliptra = terdapat pada spora dan menutup spora.
  • Gigi peristom = Mengatur membuka atau menutupnya operkulum serta melemparkan spora ke udara agar spora tersebat.





Komentar

Postingan Populer